Yuk Bang, anterin Eneng nongton lava tunnel yuk!

Dijamin deh, abang pasti ketagihan.

Sebenarnya ini oleh-oleh field trip tiga hari bulan Juni lalu yang di inisiasi oleh seorang Profesor dari Kyushu University bersama dengan seorang Juragan dari Kyoto Geothermal Research Institute di Beppu tempat saya dan Dalijo bermain-main mass spectrometry untuk analisa isotope. Sebenernya (lagi) sih, ini field trip untuk Quaternary geologist, tapi karena objeknya gunung Aso, Juragan besar saya tanpa ragu memboyong satu lab-nya (termasuk di dalamnya Dalijo dan saya) untuk ikut serta.

Apa sih lava tunnel itu?

Lava tunnel atau lava tube itu cara gampangnya bisa diartikan sebagai terowongan lava. Text book-nya ilmuwan menjelaskan bahwa bentukan seperti ini dapat terjadi dalam dua jenis aliran lava: (1) lava channel, dan (2) lava pahoehoe.

Liat satu-satu yuk!

Lava channel (1) seringkali menjadi cikal bakal lava tunnel. Alasan utamanya adalah, pada lava channel biasanya sudah terbentuk statis margin yang menentukan batas terluar morfologi lava nantinya. Statis margin ini nantinya yang anak menjadi tanggul lava (atau yang bahasa Inggrisnya lava leevee). Berikut adalah bagaimana cara mengenali lava leevee di lapangan.

tanggul lava

Lava leevee yang di google map terlihat seperti gundukan yang nongol di pinggiran tubuh lava (ohiya, dari google earth satellite image, pressure ridges bisa terlihat dengan jelas loh, pressure ridges biasanya terlihat hanya pada aliran lava yang cukup “muda”)

Jika lava channel sudah tersedia, ada (at least) tiga kandidat cerita dongeng yang bisa kita perkirakan telah menjadi penyebab adanya lava tunnel ini.

cerita lava

tiga macam dongeng lava yang bisa bikin kamu kelihatan cerdas di depan si do’i waktu lagi nge-date di lava tunnel, penjelasan mengenai lavacicles ada di bawah (yang mau pakai gambarnya untuk laporan atau skripsi, sumbernya dicantumkan yah :p)

Di kasus lava pahoehoe (2), maka kita bicara tentang bentukan-bentukan lava tunnel yang lebih mini. Iya, mini. Mini ukurannya. Lava tunnel yang ini paling sering dijumpai di aliran lava yang tidak terlalu kental.

mini lava tube yang umum dijumpai pada aliran lava pahoehoe di Hawaii (kalau mau ngopi gambarnya, sumbernya di kutip ya :p)

mini lava tube yang umum dijumpai pada aliran lava pahoehoe di Hawaii
(kalau mau ngopi gambarnya, sumbernya di kutip ya :p)

Biar lebih jelas, kita lihat yuk how it really works in 3 dimensional world.

Kalau kamu teliti, pada menit ke 0:42, kamu bisa lihat dengan jelas bentuk 3D dari gambar diatas. Keren!!!

Cukup kata pengantarnya.

Sebenarnya lava tunnel yang seperti apa sih yang ada di Aso?

Lava tunnel ini terbentuk pada lava yang bersumber dari Komezuka scoria cone. Komezuka adalah scoria cone yang ada di tengah Aso kaldera. Scoria cone ini kelihatan sangat indah dari jauh, atau (apalagi) kalau dilihat dari udara, karena kelerengan-nya yang hampir sempurna diantara 30-40°, yang jadi tipikal karakteristik scoria cone. Bentuknya yang nggemesin dari jauh itulah yang bikin saya kepingin banget muncak di Komezuka setidaknya sekali sebelum selesai sekolah dan kembali ke-haribaan tanah air. Kalau kamu pernah baca tulisan saya tentang Paricutin di Mexico yang ada disini, maka seperti itulah gambaran terbentuknya Komezuka.

NAH, lava tunnel yang ada disini sebenarnya adalah bagian dari salah satu lava yang keluar dari dasar kerucut skoria Komezuka (yang biasanya terjadi pada tahap akhir erupsi: berkurangnya gas menyebabkan lava menyisip keluar dengan tenang).

Jadi bagaimana sih kenampakan lava tunnel yang dilapangan? Ikuzoh!!

Di gambar Kiri 1, mungkin memang tidak begitu jelas, tapi sebenarnya dari titik itu kita bisa masuk ke dua lava tunnel yang berbeda (ikut panah), yang sejak sekarang akan kita namakan Mawar (sebelah kiri) dan Melati (yang kanan) yang tentu saja bukan nama sebenarnya. Dari segi dimensi, Melati lebih besar dan panjang dibanding Mawar. Gambar Kanan 1 adalah jalan masuk ke terowongan lava Mawar. Dalijo dan adik Gunungtimur sudah turun kedalam, dan entah berdiskusi tentang apa berduaan.

Foto Kiri 2, dan Tengah 2 diambil di dalam gua Melati yang lebih besar. Sedangkan foto Kanan 2 diambil dari dalam gua Mawar. Di foto Kiri 2 ada mahluk dari negeri antah berantah berfoto didepan jalan masuk gua Melati. Jika melihat posisi pintu masuk yang lebih keatas, disimpulkan bahwa jalan masuk ke Melati dan Mawar adalah apa yang disebut dengan skyfall eh sky mall eh skylight kamsudnya (hallah kriuk kriuk).

Gambar Kiri 3 adalah droplets dari atap lava tunnel yang secara khusus dinamai dengan lavacicles. Droplet ini terbentuk karena pada saat pembentukan lava tunnel, atap yang sudah terbentuk terlebih dahulu masih belum sepenuhnya solidified. Kondisi ini memberikan kesempatan bagian atap lava untuk “hampir” menetes. Mengamati dekat-dekat lavacicles menuntun kami ke tumpukan bayi kelelawar yang lagi bobo siang (di Kanan 3). Duh maafin tante ya.

Gimana? Cocok nggak sama teori yang sudah ditampilkan sebelumnya? Menurut kamu, lava tunnel dari Komezuka scoria cone ini terbentuk dari proses yang seperti apa?

Ohhh mother nature, kamu seksi sekali hari ini, seperti hari-hari lainnya.

Cheers volcano chasers!

Keringkan danau kawah itu inlander!

Yakin Meneer?

Mungkin begitu dialog kira-kira para meneer dan inlander tentang Gunung Kelud waktu itu, setelah letusan besar bulan Mei tanggal 19, 1919 (terlihat seperti angka cantik ya). Erupsi ini memakan korban terbanyak dalam sejarah Gunung Kelud, 5160 nyawa melayang, tersapu hot mudflow, atau yang lebih populer dengan nama lahar (hey, lahar itu terminologi saintifik Indonesia yang go internasional lho). Tahun 1905 sebenarnya Belanda/VOC sudah berinisiatif membangun dam di sungai Badak, untuk mencegah lahar menerjang kota terdekat, yaitu Blitar. Tapi ternyata, dam yang ada tidak cukup untuk menahan lahar tahun 1919.

Wait a minute!

Ada beberapa hal ikhwal lahar yang perlu diketahui sebelumnya. Saya yakin, erupsi Merapi 2010 lalu sedikit banyak memberikan ide pengertian asal-usul lahar bagi khalayak ramai. Lahar yang terjadi akibat letusan merapi 2010 lalu, yang membuat Pak Surono bertitah agar kita menjauhi tepian sungai dengan jarak minimal 300 m, adalah yang secara teknis dikenal dengan post-eruptive lahar. Jadi ceritanya, kita punya endapan pyroclastic flow/wedus gembel yang mengisi sungai-sungai di gunung, kemudian hujan deras turun, dan menciptakan aliran air yang bercampur dengan material volkanik (more than 25% by definition). Aliran ini secara alamiah akan semakin besar karena menyapu apa saja yang dilaluinya, termasuk misalnya batang-batang pohon dan volkanik bom segede gambreng. Karena komposisinya yang bukan cuma air, maka lahar punya daya gerus yang kuat dan mau tidak mau, atas nama keselamatan, kita harus menuruti titah Pak Surono untuk main jauh-jauh dari sungai.

Nah, yang terjadi tahun 1919 di Kelud sedikit berbeda dari yang lebih terkenal di tahun 2010 di Merapi. Di Kelud, yang terjadi adalah syn-eruptive lahar atau lahar primer. Erupsi yang terjadi di tahun tersebut menyemburkan air danau keluar dan membentuk lahar panas, (bukan lahar dingin seperti yang kita jumpai di Merapi). Lahar dingin (post-eruptive lahar) sebenarnya juga cukup sering terjadi di Kelud, namun di anggap lebih jinak dibandingkan dengan syn-eruptive ones.

Kejadian inilah yang melahirkan Volcanological Survey of Indonesia (Badan Volkanologi Indonesia) dengan tugas pertamanya yang sangat ambisius: mengeringkan air danau Kelud. Memang tujuan akhirnya bukan betul-betul mengeringkan danau kawah Kelud, tapi target mereka adalah mengurangi volume air danau, sehingga risiko terjadinya lahar primer dapat berkurang secara signifikan.

rencana ambisius ala londo (www.ulb.ac.be/sciences/cvl/DKIPART2.pdf)

rencana ambisius ala londo (all credit goes to ULB)

Proyek ambisius ini dapat dirangkum sebagai berikut:

September 1919__ air danau kering, terowongan sudah digali di kedua sisi dinding kawah

________  1923__ pekerjaan belum selesai, dan air danau sudah hampir separuh  kedalaman kawah, suhu yang cukup tinggi menghambat proses penggalian. Dan pada suatu waktu tertentu, terowongan dibanjiri oleh lumpur dan debris membunuh 5 pekerja (hmmm ada bayangan kan pekerja-nya siapa?)

________  1926__ rencana di ubah, dibuatlah 7 pipa parallel (seperti yang ada di ilustrasi) yang selesai tahun ini.

________  1951__ erupsi terjadi, namun lahar primer yang terjadi efek-nya tidak se-merusak lahar hasil erupsi tahun 1919, tapi erupsi ini justu menggerus dasar danau dan menyebabkan danau menjadi lebih dalam dan memberikan kesempatan untuk akumulasi air danau yang lebih tinggi/banyak dibadingkan sebelumnya.

________  1966__ erupsi kembali terjadi, volume air danau yang ada cukup mengancam, sehingga setelah erupsi ini, di putuskan untuk membangun sebuah terowongan baru 45m dibawah terowongan yang sudah ada sebelumnya, dan terbukti mampu mengurangi volume air danau secara cukup dramatis. Pada tahun ini pula dibangun beberapa dam dan kantung-kantung penahan sedimen (jangan bayangin kantong plastik ya) pada lereng gunung untuk membatasi luasan sebaran lahar.

________  1990__ erupsi plinian terjadi tanpa menghasilkan lahar primer, namun disisi lain menghasilkan 33 kali post-eruptive lahar.

It WOWed me a big time.

Bisa jadi ini adalah proyek mitigasi bencana gunungapi yang paling ambisius. And I guess we can say it worked at that time by looking at the decreasing rate of primary lahar occurrences. Walaupun, pada akhirnya tipe letusan Gunung Kelud yang berubah mampu benar-benar mengeringkan air danau kawah, dan menghadirkan lava dome yang mulai tumbuh pada tahun 2007 sebagai penggantinya. Tapi, tetep aja keren ya. Dengan mengesampingkan sentimen kepribumian vs londo, saya harus bilang ini proyek yang sangat gila, ambisius, tapi juga brilliant dan seksi pada waktu yang bersamaan.

Mau tau lebih detil?

Try this, this and check these wonderful photographs by some people I don’t know in Panoramio.

Until next time volcano chasers!

Ngomong-ngomong soal magmatisme

The Tale of Paricutín cornfield

Entry ini, sudah pernah di terbitkan sebelumnya di blog si Anak Gunung, saya edit dengan menambahkan beberapa detil agar nuansa sainsnya lebih terasa.

Sebagaimana dikisahkan oleh Guru saya di suatu siang, setahun yang lalu, dalam kuliah volkanologi.

Tersebutlah suatu desa yang bernama Paricutín, di Meksiko. Sejauh mata memandang, kita bisa melihat ladang jagung dimana-mana. Di ladang jagung tersebut, ada sebuah lubang tak bertuan yang sangat dalam. Warga desa Paricutín dengan bijaknya  memanfaatkan lubang tersebut sebagai tempat pembuangan sampah.

The dawn of the monogenetic volcano

The dawn of the monogenetic volcano

Baca selengkapnya…

(Meng)Aso di Aso

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saya lupa tanggal pastinya, tapi camping dua hari satu malam ini dilakukan menjelang kepulangan saya ke Indonesia akhir tahun 2010 lalu. Rute perjalanan ini di atur oleh adik kelas saya, Ueda-kun, dengan peserta 5 orang yaitu; Ueda-kun (tentu saja), Sensei, Miki-san, Nakatani-kun dan saya sendiri. Baca selengkapnya…